Jumat, 13 Juli 2012

NAK, berkacalah di cerminmu sendiri


 

NAK, berkacalah di cerminmu sendiri. Adalah nasehat yang selalu didengungkan oleh seorang ibu kepada anak tunggalnya yang berumur 11 tahun.
Ibu ini tidak mau memberi terlalu banyak nasehat, atau bahkan perintah yang kadang tidak berkhasiat. Semakin banyak atribut wejangan, anak pun bisa bingung yang mana mejadi prioritas dan juga sering lupa.
Memang sejak suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia satu-satunya yang bertanggung jawab akan masa depan anaknya. Suasana dan kondisi keluarga pun semakin pilu lantaran ekonomi semakin parah. Maka ia lebih suka memberi nasehat itu tadi, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri.”
Ibu itu juga tidak mau menerangkan apa arti ungkapan itu. Ia membiarkan anaknya sendiri yang menemukan maknanya dan ia akan mengingatnya selalu.
Benar bahwa Roy, nama anaknya, yang masih berusia 11 tahun itu sama sekali tidak mengerti artinya.
Pada suatu hari, saat mereka makan malam anaknya berkeluh, “Mom, semua teman saya selalu diantar jemput, mereka suka makan di kantin. Pokoknya teman-teman saya selalu senang seperti tidak ada yang kurang” Ibunya yang mendengar “jeritan” anaknya merasa sangat pilu, air matanya mulai mengalir namun ia menahan diri. Ia tidak mau menangis di depan anaknya. Ia harus kuat dan teguh. Ia pun mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri.” Untunglah anaknya tidak bawel dan memble. Menjelang tidur, anaknya merenungkan apa arti ungkapan ibunya itu.
Setahun kemudian, anaknya kembali berkeluh kesah, “Mom, hampir semua teman-temanku punya handphone, atau BlackBerry. Saat sekolah usai mereka selalu menelepon ayah mereka untuk dijemput.”
Kali ini ibunya tidak kuasa menahan air matanya namun ia cepat menyekanya, sekali lagi ia tidak ingin anaknya melihatnya sedih. Sambil memeluk anaknya ia mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri. Setelah itu ibu itu bergegas ke kamar dan menangis di sana sendirian.
Akhirnya memang Roy mengerti apa arti ungkapan dari ibunya itu. “Lihatlah dirimu, keluargamu dan hidupmu sendiri. Terimalah apa adanya dan jangan terlalu banyak mengeluh apalagi menangis. Ubahlah “nasibmu” dengan tekad dan perjuanganmu sehingga kamu juga akan bisa seperti mereka yang mempunyai dan memiliki”. Itulah “butir-butir mutiara” yang terpatri di hati Roy. Semenjak itu, ia tidak mau lagi mengeluh. Kini ia selalu mengatakan, “Mom, nilai-nilaiku sangat bagus dan guru-guru selalu senang dengan saya karena pekerjaan rumah saya selalu bagus.” Kali ini pun ibunya tetap mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri”. Roy mengartikannya, “Jangan cepat berpuas diri” Akhirnya Roy adalah anak yang sangat berprestasi dan selalu mendapat beasiswa.
****
Para sahabatku terkasih. Berkacalah di cerminmu sendiri, Ini adalah nasehat bijak dalam kehidupan bagi siapa saja, anda dan saya. Melihat diri lebih dahulu, menerima diri apa adanya dan jangan terlalu banyak mengeluh apalagi berputus asa. Jangan juga kita dikuasai oleh sikap gengsi sehingga kita malu tampil apa adanya. Tanamkanlah sikap optimis bahwa kita bisa mengubah nasib kita sendiri dengan tekad dan perjuangan. Ibu dan anaknya Roy adalah manusia biasa, miskin, tetapi mereka telah mengecap suatu Nilai Hidup yang luhur bahwa kebahagiaan dan kesuksesan adalah hak setiap insan

“Soegija”, Cantik Memotret Situasi (sambungan)

FILM Soegija tampil sangat menawan dan boleh dibilang dahsyat, justru kalau melihat sisi artistiknya sebuah film. Sutradara Garin Nugroho beradu kehebatan dengan sang penata musik Djaduk Ferianto dan hasil kolaborasi mereka itu menakjubkan. Paparan situasi apakah itu suasana pentahbisan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ menjadi Uskup Semarang, juga semangat nasionalisme para pemuda pejuang menjadi lebih punya greget dengan garapan ilustrasi musik yang betul-betul ciamik.
Kelompok musik Kua Etnika dan Orkes Keroncong Sinten Remen (Siapa Suka) kepunyaan Djaduk memang sejak lama dikenal ciamik meramu musik dan lagu-lagu dengan semangat daur ulang.  Lagu-lagu klasik tempo doeloe mendapatkan rohnya kembali berkat aransemen musik garapan Djaduk.
Juga karya artistik Garin Nugroho menggarap efek dramatis aneka peristiwa kemanusiaan. Maka, dahsyatnya efek perang tidak lagi muncul dalam paparan ceceran darah lazimnya film eksyen Hollywood atau juga kemasan dalam negeri Indonesia.  Duet kolaborasi Djaduk dan Garin malah mengolahnya dalam tampilan baru berupa aneka konflik batin manusia.
Antara to be or not to be. Juga konflik batin mencari jalan tengah antara keharusan setia pada tugas negara dan bisikan halus dari martabat kemanusiaan kita yang paling luhur yang bernama hati nurani.
Maka, perwira Jepang (Nobuyuki Suzuki) yang bengis pun tiba-tiba bisa merasa iba, ketika rumah Lingling diporak-porandakan tentara Jepang. Ia tegas membiarkan pedang samurai memutus cepat leher seorang opsir Belanda yang menolak memberi hormat pada Hinomaru —bendera Jepang–, tapi juga orang yang sama juga bisa hanyut dalam sebuah impian indah tentang kehidupan pasca perang ketika ingatan akan putrinya di Jepang tiba-tiba merenggut hatinya. Syahdu, membetot emosi, dan indah dalam penggarapan.
Kelucuan dan Keluguan
Kelucuan yang muncul di film Soegija pun digarap dengan perspektif berbeda. Bukan mengobral omongan jorok atau tebak-tebakan lazimnya kebiasaaan para pelawak kita saat pentas di panggung hiburan atau TV. Melainkan, kelucuan itu justru muncul dari sebuah kenaifan dan kesederhanaan.  Betapa emosi kita  bisa tersedot dalam keharuan sekaligus ingin tertawa lepas menyaksikan seorang pemuda nasionalis militan bernama Banteng yang dengan bangganya telah bisa mengeja kata “merdeka”, namun selalu luput menusuk banyonetnya ke karung sasaran sesuai arahan “perintah” bocah kecil nan lucu tapi cerdas.
Hati penonton pun tersedot keharuan mendengar coletehan seorang perempuan tua renta yang mengeluhkan sakit di kakinya dengan deskripsi sakit yang menurut kriteria juru rawat jelas “nggak nyambung” dengan kondisi fisik tubuhnya. Begitu juga, ketika anak-anak kampung yang diajari bakul jamu mendring untuk sedikit “menghujat” melalui nyanyian anak-anak desa tempo doeloe dengan satu sasaran tembak: wartawan Walondo yang lagi datang menginap di Hotel Asia.
Kelucuan berbalut kenaifan ini memang sangat khas asli Yogyakarta. Untuk urusan yang beginian, Soegija mesti berhutang budi pada besutan duet  Djaduk dan kakaknya kandung Butet. Bersama grup musik mereka Kua Etnika dan Orkes Keroncong Sinten Remen, sejoli seniman Yogya ini memang dikenal piawai mampu mengolah aneka unsur local content dalam perspektif kebutuhan pasar: penikmat seni.
Sudut pemotretan tidak biasa
Heroisme para pemuda pejuang nasionalis di bawah komando Lantip (Rukman Rosadi) juga tampil menawan. Apalagi ketika di tengah dentuman pemboman pesawat Belanda membombardir Yogyakarta pada Clash II, rombongan pemusik itu tetap berani sesumbar kurang lebih berbunyi: “Musik kami tak boleh lekang oleh dentuman meriam”.
Tata pengambilan gambar juga tidak biasa. Sutradara, photography director, dan artistic director sangat jeli memotret situasi. Meski hanya berbekal bambu runcing, namun barisan para pemuda pejuang tampil sangat gagah, ketika berjalan menyusuri jalanan menanjak di sebuah perbukitan basir berbalut latar belakang suasana langit menjelang senja kuning merona.
Juga suasana keharuan yang  sangat mencekam, ketika Mgr. Albertus Soegijapranata melambungkan doa singkat sebelum akhirnya berangkat ke Yogyakarta memindahkan pusat pemerintahan Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta. Pun pula ketika jari manisnya diisi cincin kegembalaan usai tahbisan Uskup dari tangan Mgr. PJ Willekens SJ (Cor van der Kruk).
Terpaksa makfum
Setelah melihat Soegija dan mencoba membaca film ini dari perpektif André Bazin di atas, saya mau tak mau harus  makfum ketika sutradara Garin Nugroho merebut porsi besar dari sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ untuk hal-hal remeh-temeh.  Akibatnya, porsi sosok agung Mgr. Albertus Soegijapranata hanya kecil saja dibanding beberapa ilustrasi kehidupan lainnya yang memang ditampilkan tidak kalah menarik.
Bagi saya, Soegija memang layak ditonton justru  karena merupakan film sarat nilai dan bisda menjadi jendela kita untuk melihat “peta politik” Indonesia ketika masih usia balita.
Apalagi kalau Soegija mau diletakkan pada konteks sosial politik zaman sekarang.  Soegija bisa menjadi pelecut semangat sekaligus kunci menemukan etos kepemimpinan nasional sejati. Soegija menjadi garang dan bertenaga, terutama ketika para pemimpin sekarang ini terkesan lebih suka ngurusin perutnya sendiri dan brankas partainya daripada berani bertanggungjawab menyelenggarakan kehidupan umum yang lebih baik dan bermartabat.
Soegija tegas mengacu model kepemimpinan nasional bermartabat itu pada mendiang Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang telah berkenan memberi perlindungan keamanan jiwa-raga dan jaminan hidup bagi Dwitunggal RI Soekarno-Hatta bersama keluarganya saat mereka tinggal di Gedung Agung Yogyakarta.   Kita juga bisa bercermin tentang sosok ideal kepemimpinan nasional  yang telah dicontohkan Mgr. A. Soegijapranata SJ, ketika beiau berani memutuskan memindahkan pusat pemerintahan Vikariat Apostolik dari Semarang ke Yogyakarta.
Melalui Soegija, kembali bergaung nyaring sesanti abadi élan vital Mgr. Albertus Soegijapranata: “100 % Katolik, 100 % Indonesia”. Dan tepuk tangan meriah pun meledak di bioskop, setelah  Soegija selama hampir 120 menit telah membius penontonnya dengan tontonan segar berkualitas. (Selesai)

sumber : http://www.sesawi.net/

“Soegija”, Indonesia Muda dalam Perspektif Nasionalisme Gereja Katolik



FILM – tulis André Bazin (1918-1958) dalam esainya Qu’est-ce que c’est un cinema? — lahir bukan karena hasil perkembangan teknologi rekam. Melainkan, tegas kritikus film dan pencetus jurnal Cahier du Cinéma  ini— film itu sengaja dibuat, menjadi  ada dan bisa ditonton lebih karena “ambisi” dan pikiran sutradara yang kebelet merekam situasi sosial dengan bantuan gambar, gerak, suara, dan omongan antarmanusia.  Dengan gagasan ini,  Bazin sebenarnya mau mengatakan, nafas sebuah film lebih bermuara pada sang sutradara daripada hal-hal lainnya.
Film Soegija memang mendapat sambutan luar biasa dari para penontonnya. Tak kurang, di ujung pementasan selalu diimbuhi tontonan ekstra berupa tepuk tangan meriah. Animo umat menyaksikan karya seni bidang media film ini sungguh membanggakan. Tiada lain karena tokoh film ini adalah Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, Uskup Indonesia pribumi pertama yang memangku jabatan sebagai Uskup Danaba di Vikariat Apostolik Semarang (1940-1963).
Sedikit sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ
Tapi Soegija tidak serta merta bercerita banyak tentang sosok pahlawan nasional dengan sesanti abadinya yang tersohor ini: “100 % Katolik, 100 % Indonesia”.  Melihat sosok Monsinyur Soegijapranata SJ dan kiprahnya menjaga integritas nasionalisme Indonesia di kala usianya masih balita tentu tidak pernah akan lengkap, kalau hanya bermodalkan 2 jam menikmati Soegija di layar lebar.
Soegija –nama kecil Mgr. Albertus Soegijapranata SJ ketika masih frater Jesuit—jelas lebih agung, heroik, dan tentu saja juga lebih hebat daripada sekedar Soegija hasil besutan sutradara Garin Nugroho. Membaca paparan studi ilmiah Romo Dr. Gregorius Budi Subanar SJ dalam tiga buku serial tentang sosok Romo Kandjeng ini, sudah pastilah Soegija dalam bentuk seluloid ini kalah lengkap dibanding apa yang telah dilakukan Romo Kandjeng dalam panggung riil berupa konteks sosial politik Indonesia sebelum dan pasca Kemerdekaan RI.
Nah, film  Soegija pada hemat saya kurang tegas mengambil tema besar dengan lebih memfokuskan diri pada sepak terjang perjuangan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (Nirwan Dewanto) menjaga wibawa nationhood Indonesia yang waktu itu itu hendak dikangkangi oleh Jepang dan kemudian Belanda.
Soegija pada hemat saya justru banyak berkisah tentang romansa seorang perawat nasionalis bernama Mariyem (Anissa Hertami) yang ditaksir berat oleh fotografer Belanda Hendrick van Maurick (Wouter Braaf).  Juga pada sisi lain, kisah terpisahnya Lingling (Andrea Reva) dari pelukan ibunya (Olga Lydia) dan tentu saja nafsu gila komandan tentara Belanda Robert (Wouter Sweers) yang selalu menganalogikan dirinya sebagai mesin perang.


Sekali lagi, mengikuti alur pikir André Bazin di atas, Soegija akhirnya menjadi kurang gagah lantaran terlalu mengikuti “logika” skenario garapan penulis naskah dan alur cerita arahan sang sutradara. Jadi, sebagai penonton saya memang sedikit kecewa karena sosok Mgr. Albertus Soegijapranata nyaris “digilas” habis oleh kisah romansa, deru dan tragedi perang, serta konflik batin manusia yang merobek nurani para pemuda nasionalis, termasuk komandan pasukan bela diri Jepang.
Sekali waktu seorang romo Jesuit yang tahu seluk-beluk proses produksi film Soegija ini secara personal berkisah pada Redaksi Sesawi.Net –katanya—hasil riset mendalam yang dikerjakan Romo Budi Subanar SJ tentang sosok Mgr. Albertus Soegijapranata ternyata kurang banyak muncul dalam sosok Soegija besutan Garin Nugroho.
Namun, sejujurnya saya pun sangat terhibur bisa menikmati film Soegija itu justru karena sejak awal tidak mengambil sikap dalam kerangka pikir ingin mempersepsi tontonan layar lebar itu sebagai sebuah “dokumen sejarah”.
Seakan mengikuti “logika” pasar, maka agar lebih menarik film Soegija pun lalu dikemas dengan sedikit agak kenes dan siapa tahu pasar pun diharapkan juga akan  merespon positif.  Jadi mahfum juga kalau seorang batur plus koster Toegimin (Butet Kertaradjasa) berani nranyak geguyonan (kelewatan bercanda) dalam bertutur kata dengan Romo Kandjeng –hal yang rasanya muskil ada dalam peta sosial waktu itu dimana seorang Uskup terlalu “besar” dan berwibawa untuk umat sekalipun, apalagi di mata seorang pembantu. (Bersambung)

sumber : http://www.sesawi.net/